Amerika
Falsafah sistem pers Amerika berpusat kepada individu, manusia orang perorang. Asumsinya individu pada dirinya adalah tujuan. “the individual is and end itself”
Rousseu, seorang filsuf terkenal mengasumsikan kondisi ini dengan Homo Homini Lupus; Manusia adalah Serigala bagi Manusia lainnya. Atau bisa juga di artikan dengan siapa yang kuat dialah yang menang.
Amerika juga menganut prinsip: semua orang sama derajatnya dan berdaulat. Jadi setiap orang dapat mengembangkan kemampuan serta bakatnya sesuai dengan kodratnya sebagai manusia. Jika manusia mendapatkan self reallzation maka bahagialah dia. Tidak ada pengekangan individu oleh masyarakat, sebaliknya individu harus membantu individu lainnya dalam mewujudkan selfreallzation.
Diluar tugas-tugas yang sudah diperincikan, pemerintah tidak dibenarkan ikut campur dalam urusan warga negara. Begitupun sebaliknya. Hal ini juga di serap oleh elemen komunikasi massa di Amerika. Rangkaian kebebasan juga berlaku; kebebasan jiwa, kebebasan berfikir, kebebasan berpendapat, dan kebebasan menyatakan pikiran dan perasaan.
The right of free speech, the right to freely assemble
The right of free press ditegaskan kembali dengan statement: Every inhabitanthas the right to publish his statements on all subjects. Jadi setiap individu penduduk negeri tersebut berhak menerbitkan perasaan dan pikirannya mengenai segala hal. Hak ini bahkan dijamin oleh undang-undang. Kebijakan ini tentunya di ikuti kebijakan lain, yaitu; saling menghormati kesamaan derajat serta kedaulatan yang dimiliki oleh sesama individu.
Jadi statement kebebasan diatas dibatasi oleh statement atau ketentuan lain yg berbunyi:
Being responsible for the abuse of it
(bertanggungjawab atas penyalahgunaan semua hak tersebut)
Komunis
Tujuan dasarnya masih sama, mencari kebebasan manusia. Tapi paham ini berangkat dari individu sebagai bagian kelompok mutlak. Jadi manusia baru bisa bahagia apabila ia dapat hidup dalam suasana bebas dan serasi dengan masyarakat. Yang menjadi catatan sekaligus titik lemah falsafah ini adalah manusia selalu bergejolak, tidak pernah statis. Karena pada faktanya perbedaan kelas pasti akan tetap ditemukan walaupun prinsip keadilan ditegakkan. Pada akhirnya akan terbentuk dua kelas yaitu kelas pekerja dan kelas pemilik alat-alat produksi. Oleh karena itu Karl Max berpendapat bahwa untuk menghancurkan kelas-kelas ini manusia harus ada dalam sebuah kelompok yang besar yang tidak memiliki kelas-kelas atau menjadikan situasi dimana semua orang setara, sehingga kebahagiaan didapati.
Pers dinegara-negara yang menganut falsafah ini , berfungsi untuk menjaga agar tidak ada perbuatan-perbuatan yang mendahulukan keputusan individu yang pada akhirnya melalaikan keputusan tertinggi, yaitu keputusan masyarakat, prolatariat, pemerintah dan parta.
Pada falsafah ini tidak setuju atau berbeda pendapat dengan keputusan tertinggi adalah dosa besar!
Kommunikasi massa di negara-negara ini merupakan alat yang dibawahi pimpinan sejumlah kecil pimpinan-pimpinan pahlawan yang dimanfaatkan untuk mencapai hasil yang sudah ditentukan terlebih dahulu.
Jadi jikalau sistem pers amerika itu jasa maka sistem pers komunis itu alat. Lalu bagaimana dengan Indonesia?
Indonesia
Falsafah bangsa ini adalah melihat orang-orang dalam kaitannya dengan sesamanya dalam usaha bersama-sama membangun masayrakat. Kebersamaan inilah yang melandasi semua sistem-sistem yang berkerja dinegara kita. Perwujudannya adalah penyerapan nilai-nilai Pancasila ke semua aspek kehidupan kita.
Tetapi pada akhirnya kebersamaan budaya yang kita anut juga mempengaruhi falsafah dari rakyat untuk raktay yang kita anut bersama.
Dalam pers rakyat banyak membentuk gambarannya tentang keadaan sekitarnya berdasarkan bahan-bahan yang diperolehnya dari pers. Oleh karena itu pers Indonesia harus berfungsi sebagai alat informasi, interpretasi dan edukasi yang sehat untuk masyarakat Indonesia sesuai dengan Pancasila.
Prinsipnya adalah Fit To Print kepada kaidah-kaidah Pancasila. Jadi boleh dicetak dan disebarluaskan asal sesuai dengan Kaidah-kaidah Pancasila.
*disadur dari : Sistem Pers Pancasila, M. Lenokito, penerbit Kedaulatan Rakyat.
Ilmu Komunikasi
Jurnalistik
Universitas Bina Darma
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Comments :
0 komentar to “Sistem Perbandingan Jurnalis”
Posting Komentar